Kamis, 12 Maret 2015

Arti Sebuah Nama (Intan Tetaplah Intan)

YUSUF JEWELLERY

Siang hari itu sangat terik. Sinar matahari membakar seluruh isi bumi. Tak terkecuali seorang lelaki tua renta, berkulit hitam legam yang memanggul dagangannya, berjalan menyusuri jalanan kampung yang sepi. Terlihat guratan di wajahnya melukiskan jalan kehidupan beliau. Ditambah dagangan yang ia bawa hari itu masih terlihat menumpuk. Ia usap peluh yang mengucur di pelipis. Sejenak beliau berdiri termenung mendengarkan merdu lembut suara Azan yang mendayu-dayu terbawa semilir angin yang bersahabat di siang itu. Ia turunkan dagangan yang menggelayut sedari subuh, dari pundaknya. Perlahan langkah kaki lelaki tua itu menuruni jalanan setapak pinggiran sungai yang jernih aliran airnya. Ia usap raut muka, dan sebagian anggota tubuhnya. Beberapa saat kemudian Ia berdiri dan bersujud. Suhnallah... Ternyata beliau melaksanakan sholat di awal waktu. Tangannya yang kekar tengadah memohon belas kasih Sang Maha Pengasih "Ya Allah hambah berserah kepadaMu.... Tak ada satu makhlukpun yang tak Engkau beri rizki, hari ini daganganku belum laku satu ikatpun. Berilah hamba dan keluarga hambah keikhlasan dan kesabaran dalam menjalani ujian kesulitan dari Mu" 

Selesai beliau berdoa, kembali Ia lanjutkan perjalanan berdagang beliau. Ternyata sampai sore, sudah melebihi jadwal waktu dagang beliau, dagangan juga belum terjual satupun. Tetap dengan pengharapan kepadaNya beliau ayunkan langkah kaki menuju rumah.  Setiba di rumah istri dan putri semata wayangnya sudah menunggu dengan cemas. Bergegas istri tercinta menyongsong suami dan membantu membereskan dagangan. "Ibu dan Intan sudah makan??? " tanya sang lelaki tua. Sang istri yang memahami kondisi suami berkata "Bapak tidak usah mengkhawatirkan kami. Kami berada di rumah terhindar dari segala macam perubahan cuaca. Bapak sendiri bagaimana???? Ibu lihat dagangan hari ini masih utuh." heeeeeeeeemmmmmmmmmmmm Uuuuuuuuuuuuuuh hela nafas panjang terdengar sesaat sebelum leleki tua itu berucap. "Iya benar hari ini daganganku masih utuh. Sabar ya bu.... dan kau Intan putriku.... " "Iya.... Bapak... Intan bangga mempunyi Bapak yang terus punya pengharapan dan kesabaran atas ujian Allah" putri remaja yang mulai menginjak dewasa itu menghibur hati bapaknya yang sedang sedih. "Bapak juga bangga punya kalia. Ibu selalu sabar menggu dengan semua takdir, rizki yang Allah bagikan melalui tangan Bapak selama 18 tahun ini. . . Kau putriku terima kasih juga untukmu,  walau kau telah remaja namun kau juga memahami kesulitan hidup orang-tuamu. Seperti nama yang Bapak dan Ibu berikan kepadamu...   Intan semoga hatimu juga demikian" Akhirnya... Istri dan putri semata wayangnya menangis haru dalam dekapan lelaki tua itu, sebelum mereka menghabiskan 3 potong ubi rebus sebagai penutup makan malam mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar